Semua orang pernah atau akan merasakan cinta, ketika berpadu antara yang dicintai dan yang mencintai, kenikmatan dan kebahagiaanpun didapatkan, sebaliknya kesedihan akan merundung hati jika putus asa untuk mendapatkan apa yang dicintai, maka cinta jika dapat disalurkan secara alami dan syar’i merupakan anugerah dan nikmat, sebaliknya mencintai seseorang atau sesuatu yang tidak mungkin didapatkan secara alami atau tidak boleh disalurkan secara syar’i merupakan sebuah problem atau ujian yang berat.
Cinta yang proposional dan alami merupakan anugerah dan tanda kekuasaan besar Allah, satu diantara nama Allah adalah Al-Wadud yang berarti Yang Maha Mencintai dengan cinta yang murni, dan Dia menjajikan orang beriman dan beramal shaleh dengan mawaddah kecintaan yang murni, Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) al mawaddah. QS Maryam ayat : 96. Allah mencintai hambaNya yang baik, dan mencintai yang baik baik sebagimana banyak diungkapkan dalam Al-Qur’an ” sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan” QS aLBaqarah ayat : 195, Ali Imran ayat : 134 “Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan bersuci QS Al Baqarah ayat : 222.
Satu karakteristik fitrah penciptaan manusia mencintai anak istri, dan harta kekayaan sehingga cinta ini bukan kesalahan apalagi dosa, melainkan fitrah yang perlu dijaga dengan baik, Allah berfirman : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS Ali Imran ayat : 14.
Nabi saw sendiri menyatakan bahwa fitrah beliau mencintai wanita dan parfum , beliau bersabda : aku dijadikan mencintai dua perkara dari dunia kalian, wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku shalat HR Ahmad, Nasai dan Baihaqi.
Allah swt yang menciptakan cinta dan Dia telah menerangkan cara untuk menyalurkannya, Dia telah menjadikan ketertarikan syahwat antara laki laki dan perempuan dan menerangkan cara yang tepat menyalurkan cinta yaitu ikatan pernikahan yang suci. dengan ikatan suci ini Allah membangun cinta, kasih sayang dan sakinah, ” Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”QS An-Nahl ayat : 72, sebagaimana Allah menjadikan sesama kaum muslimin cinta kasih sayang dalam ibadah kepada Allah tolong menolong dalam kebajikan untuk menuju ridhaNya:
“ Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS At-taubah : 71.
Kasih sayang yang syar’i dan alami ini merupakan ibadah dan iman dan kenikmatan yang sangat mahal, bisa mencintai dan merasa dicintai sehingga Allahpun mencintai hambaNya yang mampu membangun cinta iman sesama manusia yang beriman, bahkan Allah memerintahkan para malaikatNya untuk mencintainya, dalam hadits yang shahih riwayat Muslim : ” jika Allah mencintai hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman : Aku telah mencintai si fulan, maka cintailah dia, dan Jibrilpun mencintainya, lantas Jibril memanggil penduduk langit dari para Malaikat dan mengatakan Wahai penduduk langit sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah dia, dan penduduk langitpun mencintainya, kemudian ditetapkan untuknya penerimaan (penduduk bumi yang shaleh terhadapnya). HR Muslim
Demikian juga Allah menanamkan cinta terhadap harta kekayaan dan menerangkan cara mendapatkankan dengan bekerja dan perniagaan yang halal, dan menerangkan bahwa harta benda merupakan sarana kenyamanan hidup untuk ibadah kepada Allah, demi meraih kebahagiaan yang abadi dan hakiki di akherat kelak, dan syukur kepada Allah atas nikmat harta kekayaan serta memanfaatkannya dengan baik sesuai petunjuk Allah merupakan sarana mengekalkan dan memberdayakan cinta terhadap harta. Allah tidak mengingkari cinta syahwat terhadap harta, melainkan mengingatkan supaya hal itu tidak dijadikan tujuan hidup, dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mencapai kekekalan. “Katakanlah: “Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah beriman, Maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur QS Ali Imran ayat : 15-17.
Cinta terhadap harta jika didapatkan dengan cara halal, digunakan dengan cara halal, merupakan kenikmatan yang besar, tapi jika menjadi tujuan akan menjadi bencana yang besar, dalam hadits dikatakan : ” celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian, celaka hamba perhiasan, celaka dan tersungkur, jika mendapat musibah tidak bisa melepaskan diri darinya, jika dikasih dia ridha, jika tidak dikasih dia marah. HR Bukhari Muslim.
Cinta selain bisa menjadi nikmat juga menjadi ujian dan bencana, maka untuk memahami masalah ini seorang muslim harus menyadari bahwa ia adalah hamba Allah yang dirahmati dan diuji untuk beribadah kepada Allah termasuk dalam management cinta, sehingga tidak cinta buta, mencintai sesuai dengan kemauannya, menyalurkan cintanya dengan segala cara yang disukainya, melainkan cinta dan penyalurannya dengan koridor sebagai hamba Allah.
Diantara ujian dalam masalah cinta adalah cinta syahwat kepada seseorang yang tidak boleh dilakukan seperti cinta wanita kepada mahramnya, atau sebaliknya, atau cinta laki laki kepada wanita yang sudah bersuami, atau cinta sesame jenis homosex atau lesbi, atau cinta wanita kepada laki laki kafir karena ketampanan dan kekayaannya, ini cinta yang tidak boleh disalurkan, cinta ini bukan anugrah bukan nikmat melainkan ujian yang berat, tapi jika mampu malampuinya, merupakan perjuangan yang sangat tinggi nilainya, dan cara mengatasinya adalah dengan membangun cinta yang besar kepada Allah swt, Cinta kepada Allah mampu menyingkirkan segala cinta shahwat yang maksiat, kedua dengan membangun cinta alami yang sehat yang bisa disalurkan dengan cara yang alami dan syar’i pula, membangun keyakinan akan efektifitas doa ” Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan apa yang Engkau halalkan dari apa yang Engkau haramkan, Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan ketaatan kepadaMu dari kemaksiatan kepadaMu, Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan karuniaMu dari apa selainMu HR Hakim dalam Mustadrak.
Ada lagi cinta yang memungkinkan sebagai nikmat dan ujian sekaligus, yaitu cinta syahwat kepada seseorang atau harta yang sulit didapatkan seperti orang cinta kepada seseorang yang boleh menikah dengannya tapi kemungkinan bisa tidak bergayung sambut atau ingin memiliki barang yang akan digunakan hal yang baik, tapi kemampuannya sangat terbatas untuk mendapatkannya. Cinta ini merupakan ujian bagi yang mencintai agar tetap dalam koridar syar’i sebagai hamba Allah dalam menggapai cinta tersebut, dengan doa atau melamar agar dapat terjalin cinta yang syar’i. Jika ternyata berhasil maka akan menjadi kenikmatan, tapi jika ternyata sulit atau tidak berhasil hendaklah berusaha menimbun cinta tersebut dalam dalam sampai Allah memberikan kemudahan dalam mnendapatkan cinta yang bisa disalurkan, dengan harapan semoga Allah memudahkan untuk bertemu dengan orang lain yang bisa membangun cinta yang suci. Ujian untuk tidak melakukan cinta yang tidak halal seperti berkhlwah atau berzina. Dan melawan gejolak cinta seperti ini merupakan jihad terhadap jiwa agar tetap dalam koridar syar’i
Yang paling baik adalah kemampuan seorang memanage ketertarikan hati untuk segera menghindari penyaluran ketertarikan kepada lawan jenis kecuali ketika datang waktunya yang tepat, dan memiliki keyakinan dapat melakukan cara yang tepat pula, sebab cinta tidak datang dengan tiba tiba melainkan bertahap, maka perlu waspada terhadap langkah langkah jebakan setan, seperti melakukan kenalan dan ikatan cinta padahal belum siap menikah.
Demikian juga cinta terhadap harta dibolehkan dengan cara yang halal, dan digunakan dengan cara yang halal merupakan suatu kebaikan, dan ujian seorang hamba untuk tidak melakukan cara yang haram dalam mendapatkan harta yang halal.
Bimbingan Allah dalam masalah cinta adalah pemahaman bahwa manusia adalah hamba Allah, yang menghamba kepada Allah dengan segala penghambaan, dan menjadikan cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah, dan tidak mencintai kecuali yang dicintai Allah dengan cara yang dicintai Allah, dalam rangka cinta kepada Allah, inilah jalan menuju kelezatan iman : ” tiga hal siapa yang yang tiga hal tersebut ada pada diri seseorang akan mendapatkan kelezatan iman : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selain keduaNya, dan tidaklah mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran setealh Allah selamatkan darinya sebagaimana benci dicampakkan ke dalam api HR Bukhari.
Komentar Terbaru