Posted by: asma | April 1, 2011

Cinta antara anugrah dan ujian

Semua orang pernah atau akan merasakan cinta, ketika berpadu antara yang dicintai dan yang mencintai, kenikmatan dan kebahagiaanpun didapatkan, sebaliknya kesedihan akan merundung hati jika putus asa untuk mendapatkan apa yang dicintai, maka cinta jika dapat disalurkan secara alami dan syar’i merupakan anugerah dan nikmat, sebaliknya mencintai seseorang atau sesuatu yang tidak mungkin didapatkan secara alami atau tidak boleh disalurkan secara syar’i merupakan sebuah problem atau ujian yang berat.

Cinta yang proposional dan alami merupakan anugerah dan tanda kekuasaan besar Allah, satu diantara nama Allah adalah Al-Wadud yang berarti Yang Maha Mencintai dengan cinta yang murni, dan Dia menjajikan orang beriman dan beramal shaleh dengan mawaddah kecintaan yang murni, Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) al mawaddah. QS Maryam ayat : 96. Allah mencintai hambaNya yang baik, dan mencintai yang baik baik sebagimana banyak diungkapkan dalam Al-Qur’an ” sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat kebajikan” QS aLBaqarah ayat : 195, Ali Imran ayat : 134 “Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang bertaubat dan bersuci QS Al Baqarah ayat : 222.

Satu karakteristik fitrah penciptaan manusia mencintai anak istri, dan harta kekayaan sehingga cinta ini bukan kesalahan apalagi dosa, melainkan fitrah yang perlu dijaga dengan baik, Allah berfirman : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). QS Ali Imran ayat : 14.

Nabi saw sendiri menyatakan bahwa fitrah beliau mencintai wanita dan parfum , beliau bersabda :  aku dijadikan mencintai dua perkara dari dunia kalian, wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk mataku shalat HR Ahmad, Nasai dan Baihaqi.

Allah swt yang menciptakan cinta dan Dia telah menerangkan cara untuk menyalurkannya, Dia telah menjadikan ketertarikan syahwat antara laki laki dan perempuan dan menerangkan cara yang tepat menyalurkan cinta yaitu ikatan pernikahan yang suci. dengan ikatan suci ini Allah membangun cinta, kasih sayang dan sakinah, ” Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”QS An-Nahl ayat : 72, sebagaimana Allah menjadikan sesama kaum muslimin cinta kasih sayang dalam ibadah kepada Allah tolong menolong dalam kebajikan untuk menuju ridhaNya:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS At-taubah : 71.

Kasih sayang yang syar’i dan alami ini merupakan ibadah dan iman dan kenikmatan yang sangat mahal, bisa mencintai dan merasa dicintai sehingga Allahpun mencintai hambaNya yang mampu membangun cinta iman sesama manusia yang beriman, bahkan Allah memerintahkan para malaikatNya untuk mencintainya, dalam hadits yang shahih riwayat Muslim : ” jika Allah mencintai hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman : Aku telah mencintai si fulan, maka cintailah dia, dan Jibrilpun mencintainya, lantas Jibril memanggil penduduk langit dari para Malaikat dan mengatakan Wahai penduduk langit sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan maka cintailah dia, dan penduduk langitpun mencintainya, kemudian ditetapkan untuknya penerimaan (penduduk bumi yang shaleh terhadapnya). HR Muslim

Demikian juga Allah menanamkan cinta terhadap harta kekayaan dan menerangkan cara mendapatkankan dengan bekerja dan perniagaan yang halal, dan menerangkan bahwa harta benda merupakan sarana kenyamanan hidup untuk  ibadah kepada Allah, demi meraih kebahagiaan yang abadi dan hakiki di akherat kelak,  dan syukur kepada Allah atas nikmat harta kekayaan serta memanfaatkannya dengan baik sesuai petunjuk Allah merupakan  sarana mengekalkan dan memberdayakan cinta terhadap harta. Allah tidak mengingkari cinta syahwat terhadap harta, melainkan mengingatkan supaya hal itu tidak dijadikan tujuan hidup, dan menjadikannya sebagai sarana ibadah untuk mencapai kekekalan. “Katakanlah: “Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami Telah beriman, Maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”   (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur QS Ali Imran ayat : 15-17.

Cinta terhadap harta jika didapatkan dengan cara halal, digunakan dengan cara halal, merupakan kenikmatan yang besar, tapi jika menjadi tujuan akan menjadi bencana yang besar, dalam hadits dikatakan : ” celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian, celaka hamba perhiasan, celaka dan tersungkur, jika mendapat musibah tidak bisa melepaskan diri darinya, jika dikasih dia ridha, jika tidak dikasih dia marah. HR Bukhari Muslim.

Cinta selain bisa menjadi nikmat juga menjadi ujian dan bencana, maka untuk memahami masalah ini seorang muslim harus menyadari bahwa ia adalah hamba Allah yang dirahmati dan diuji untuk beribadah kepada Allah termasuk dalam management cinta, sehingga tidak cinta buta, mencintai sesuai dengan kemauannya, menyalurkan cintanya dengan segala cara yang disukainya, melainkan cinta dan penyalurannya dengan koridor sebagai hamba Allah.

Diantara ujian dalam masalah cinta adalah cinta syahwat kepada seseorang yang tidak boleh dilakukan seperti cinta wanita kepada mahramnya, atau sebaliknya, atau cinta laki laki kepada wanita yang sudah bersuami, atau cinta sesame jenis homosex atau lesbi, atau cinta wanita kepada laki laki kafir karena ketampanan dan kekayaannya, ini cinta yang tidak boleh disalurkan, cinta ini bukan anugrah bukan nikmat melainkan ujian yang berat, tapi jika mampu malampuinya, merupakan perjuangan yang sangat tinggi nilainya, dan cara mengatasinya adalah dengan membangun cinta yang besar kepada Allah swt, Cinta kepada Allah mampu menyingkirkan segala cinta shahwat yang maksiat, kedua dengan membangun cinta alami yang sehat yang bisa disalurkan dengan cara yang alami dan syar’i pula, membangun keyakinan akan efektifitas doa ” Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan apa yang Engkau halalkan dari apa yang Engkau haramkan, Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan ketaatan kepadaMu dari kemaksiatan kepadaMu, Ya Allah berikan kecukupan dan kepuasan dengan karuniaMu dari apa selainMu HR Hakim dalam Mustadrak.

Ada lagi cinta yang memungkinkan sebagai nikmat dan ujian sekaligus, yaitu cinta syahwat kepada seseorang atau harta yang sulit didapatkan seperti orang cinta kepada seseorang yang boleh menikah dengannya tapi kemungkinan bisa tidak bergayung sambut atau ingin memiliki barang yang akan digunakan hal yang baik, tapi kemampuannya sangat terbatas untuk mendapatkannya. Cinta ini merupakan ujian bagi yang mencintai agar tetap dalam koridar syar’i sebagai hamba Allah dalam menggapai cinta tersebut, dengan doa atau melamar agar dapat terjalin cinta yang syar’i. Jika ternyata berhasil maka akan menjadi kenikmatan, tapi jika ternyata sulit atau tidak berhasil hendaklah berusaha menimbun cinta tersebut dalam dalam sampai Allah memberikan kemudahan dalam mnendapatkan cinta yang bisa disalurkan, dengan harapan semoga Allah memudahkan untuk bertemu dengan orang lain yang bisa membangun cinta yang suci.  Ujian untuk tidak melakukan cinta yang tidak halal seperti berkhlwah atau berzina. Dan melawan gejolak cinta seperti ini merupakan jihad terhadap jiwa agar tetap dalam koridar syar’i

Yang paling baik adalah kemampuan seorang memanage ketertarikan hati untuk segera menghindari penyaluran ketertarikan kepada lawan jenis kecuali ketika datang waktunya yang tepat, dan memiliki keyakinan dapat melakukan cara yang tepat pula, sebab cinta tidak datang dengan tiba tiba melainkan bertahap, maka perlu waspada terhadap langkah langkah jebakan setan, seperti melakukan kenalan dan ikatan cinta padahal belum siap menikah.

Demikian juga cinta terhadap harta dibolehkan dengan cara yang halal, dan digunakan dengan cara yang halal merupakan suatu kebaikan, dan ujian seorang hamba untuk tidak melakukan cara yang haram dalam mendapatkan harta yang halal.

Bimbingan Allah dalam masalah cinta adalah pemahaman bahwa manusia adalah hamba Allah, yang menghamba kepada Allah dengan segala penghambaan, dan menjadikan cinta tertinggi adalah cinta kepada Allah, dan tidak mencintai kecuali yang dicintai Allah dengan cara yang dicintai Allah, dalam rangka cinta kepada Allah, inilah jalan menuju kelezatan iman : ” tiga hal siapa yang yang tiga hal tersebut ada pada diri seseorang akan mendapatkan kelezatan iman : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada selain keduaNya, dan tidaklah mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran setealh Allah selamatkan darinya sebagaimana benci dicampakkan ke dalam api HR Bukhari.

Posted by: asma | January 26, 2011

Pendidikan Yang Mencetak Manusia beradab

Allah berkata : “ bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal daging yang menempel di dinding rahim. Bacalah dan Rabbmu Dzat Yang paling mulia, yang mengajarkan manusia dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui. QS Al-‘Alaq ayat 1-5

Sangat disayangkan umat yang mendapatkan ayat ini kemudian tidak mampu menciptakan manusia beradab, yang ada manusia cerdas minus akhlaq dan adab, dengan bukti kerusakan moral terjadi di semua level dan instansi. dilakukan oleh manusia manusia yang berpendidikan tinggi.

Lima ayat dari surat al-‘alaq di atas merupakan ayat yang pertama kali turun kepada Rasulullah saw. angat luar biasa Nabi yang Ummi mendapatkan tugas melakukan aktifitas pendidikan untuk membangun peradaban rabbani. Dengan berbagai landasan idiologis, logika, dan moral.

Ayat Pertama : “ bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan, ayat ini memberikan pelajaran bahwa budaya baca harus menjadi jati diri kaum muslimin, kemudian  motivasi dan landasan membaca, adalah ridha Allah, membaca dengan nama Rabbmu, membaca terarah dengan motivasi yang benar, membaca dengan nama Rabb Allah, kata rabb sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa membaca harus mendididik, yaitu memelihara, menjaga, mengembangkan, serta mengarahkan fitrah manusia agar menjadi hamba Allah, dan kholifahNya di bumi, ketika membaca karena Allah, dengan Allah, untuk Allah, harus menjadikan orang kenal Allah kagum dengan kemuliaan Allah dan kebesaranNya sehingga ia tawadzu’ kepada Allah. membaca bukan untuk kesombongan intelektual. obyek yang dibaca adalah semua yang diciptakan Allah, membaca yang tertulis dari wahyu Allah  Qur’an dan sunnah, atau yang dikembangkan oleh manusia, membaca yang tersirat dan terhampar di  alam semesta dan jiwa manusia, yang membuktikan kebenaran informasi Allah dalam Al-Qur’an, sebagaimana Allah katakan : “ Kami akan perlihatkan kepada mereka ayat ayat Kami di ufuq ufuq dan dala diri mereka sehingga jelas bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu haq”. QS FUSSILAT 54

Ilmu yang bermanfaat dalam Islam semuanya ilmu addin, hanya  saja ilmu ad-ddin terbagi menjadi ilmu tujuan yang menjadikan orang kenal Allah, dan beribadah kepadaNya dengan baik, kenal akherat kemudian beramal untuk kebahagiaan di dunia dan akherat, yang kedua : ilmu sarana yang menjadikan seseorang mudah beribadah kepada Allah dan mengelola alam semesta.  Ilmu dalam islam tidak parsial dan tidak dikotomik tapi integrasi kesatuan yang utuh .

Ayat kedua : “yang menciptakan manusia dari segumpal darah yang menempel di dinding rahim” ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan harus memberikan ilmu ma’rifat nafs mengenal diri sendiri, sebagai maghluq yang bertanggung jawab kepada khaliq, maghluq yang diperintah, diatur, dikuasai dan dimiliki oleh Khaliqnya dan Rabbnya. Kemudian pendidikan yang memahamkan akan hakekat diri yang diciptakan dari air yang hina, diciptakan dari segumpal darah yang kalau Allah tidak pelihara tidak jadi apa apa, maka pendidikan harus berhasil mencetak manusia yang tawadhu’ kepada Allah pandai berterima kasih menerima  kebenaran dan tidak menyombongkan diri terhadap manusia.

Ayat ketiga : “ bacalah dengan nama rabbmu yang paling mulia” ayat ini menginsipirasi bahwa pendidikan harus mengenalkan Allah yang al-akram, sehingga menjadi manusia yang Al-Akrom, yaitu orang yang paling bertaqwa karena orang yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa, dan yang paling bertaqwa adalah yang paling mampu memberdayakan potensinya untuk menjaga dirinya dari api neraka, yang paling bertaqwa adalah yang paling banyak kontribusi sosialnya sebagaimana Allah difinisikan : “dan Aku beri peringatan kepada kalian dengan neraka yang menyala nyala, tidak memasukinya kecuali orang yang celaka. Yang mendustakan dan berpaling. Dan akan menjauhinya al – atqa (yang paling bertaqwa) yitu orang yang memberikan hartanya dalam rangka membersihkan diri”

Sekali lagi ayat ini menegaskan bahwa pendidikan atau membaca denagn Nama Rabb (Dzat Yang Maha mendidik) yang paling mulia, baga membaca harus menjadikan manusia mulia dengan akhlaq yang tinggi pemurah diharapkan kebaikannya, dan aman darinya segala bentuk gangguan, dalam hadits dikatakan : orang islam adalah orang yang semua manusia aman dari gangguan lesan dan tanggannya. Orang yang beriman adalah orang yang manusia merasa aman nyaman atas harta dan jiwa mereka dari gangguannya.

Kemuliaan bukan karena banyaknya ilmu, atau banyaknya harta, atau jabatan melainkan mulia karena mengamalkan ilmu yang bermanfaat dan memberikan kebaikan serta kenyamanan manusia dan lingkungannya.

Ayat keempat :” yang mengajarkan manusia dengan pena” ayat ini menunjukkan bahwa pembelajaran dan pendidikan ahrus dengan pena, dokumentasi ilmu yang selalu bisa dirujuk, pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengantarkan orang pandai membaca, pandai menulis, pandai mendumentasikan ilmu, dan mengkomunisasikan ilmu kepada manusia. Dengan pena dokumentasi ilmu, Alhamdulillah kemurnian Islam terjaga dengan sempurna, peradaban dapat diwariskan. Budaya tulis menulis ternyata berhasil diciptakan oleh ulama ulama terdahulu, banyak sekali ulama ulama yang memiliki kemampuan menulis yang sangat luas biasa munulis kitab samapi ribuan jilid dari hafalan dengan analisa yang sangat tajam, sangat ilmiah, dengan bukti, banyak para ilmuan sekarang mendapatkan gelar doctor atau guru besar hanya dengan meneliti satu jilid dari buku mereka yang berjilid jilid, banyak buku mereka yang sampai srkarang menjadi rujukan esensial dalam berbagai disiplin ilmu. Dan hal ini berbeda dengan auotput pendidikan sekarang yang belum mamp[u mencetak para penulis handal kecuali sedikit sekali.

Ayat kelima : Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui”  ayat ini memberikan pemahaman bahwa ilmu itu dari Allah, manusia lahir sebagi makhluq yang tidak tahu apa apa, dan Allahlah yang mengajarkan ia berbagai disiplin ilmu, maka tidak pantas orang menyombongkan diri dengan ilmu yang Allah berikan kepadaNya. Ayat ini juga bahwa manusia harus semangat belajar dan belajar, sy’ar hidupnya : “wa qul rabbi zidni ‘ilma” yaa Allah tambahilah saya ilmu.

Kesimpulan : Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memberian ilmu yang koprenhensif, luas, mencetak manusia yang beraqidah kuat dan benar, memiliki akhlaq yang tinggi, mencetak manusia yang produktif mampu bermal shaleh dalam segala lapangan kehidupan, mudah mudahan dengan memahami ayat ini bangsa Indonesia sadar akan kesalahannya yang fatal dalam pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif saja, menciptakan dikotomi ilmu sehingga membangun sekularisme prgmatisme karena memandang ilmu adalah yang mendatangkan materi saja, sebagaimana Allah katakana : mengetahui dhahirnya dunia dan lalai dari akherat, Yaa Allah didiklah kami dan bangsa Indonesia dengan didikanmu sehingga kami mampu mlakukan reformasi pendidikan dio negeri kami denagn bimbinganMu.

Posted by: asma | January 11, 2011

Hidup Itu Serius

“ Apakah kalian menyangka bahwa Kami ciptakan kalian main main kemudian kalian tidak dikembalaikan kepada Kami, Maha Tinggi Allah Raja Yang Haq, tidak ada ilaah yang berhak disembah kecuali Dia Pemelihara ‘Arsy yang agung.QS Mukminun ayat : 115-116.

Ayat di atas membimbing iman dengan hari kiamat sebagai hari pertanggungan jawab atas segala perbuatan manusia, dan keseriusan hidup dengan logika yang sangat meyakinkan, kalau ada seorang raja, telah membuat aturan, memberikan janji dan ancaman, kemudian tidak pernah mengevaluasi rakyatnya, mana yang taat dan durhaka, mana yang loyal dan mana yang mbangkang, tidak memberikan reward maupun punishment, pastilah dikatakan bahwa raja tersebut tidak bijak, kemudian kalau diperhatikan kehidupan manusia di dunia, ada yang selama hidupnya sangat baik, kemudian mati dan belum mendapatkan balasan atas kebaikannya, kemudian ada yang selalu terdhalimi sepanjang hidupnya, kemudian meninggal dan belum mendapatkan pengadilan dan pembelaan atas orang yang mendhaliminya, yang lain ada yang hidupnya penuh dengan kedhaliman, sampai mati belum mendapatkan pembalasan atas kedhalimannya, apakah masuk akal bahwa hidup berhenti dengan kematian, tanpa ada kehidupan lagi? Padahal Allah mengatakan Dia yang paling adil, semua akan mendapatkan balasan atas semua yang dilakukan baik atau buruk. Allah telah memberikan perintah dan larangan, aturan dan batasan batasan, Allah sebagai raja yang haq, tidak masuk akal kalau Dia tidak  merealisasikan janjiNya, maka harus ada hari kiamat hari dibangkitkannya manusia untuk memberikan orang baik balasan atas kebaikannya, dan orang buruk balasan atas keburukannya, orang yang terdhalimi mendapatkan pembelaan atas orang yang mendhaliminya.

Ayat diatas juga membimbing kaum muslimin untuk hidup serius, konsen terhadap tujuan dan cita cita hidup, tidak terlena dengan permainan, dan senda gurau kecuali sekedar untuk hiburan yang tidak melalaikan dari tujuan utama. semua alam semesta telah menjalankan tugasnya dengan baik , kecuali manusia yang banyak menghabiskan waktu hidupnya, potensi dan kekayaan alam hanya untuk hal hal yang remeh, padahal doanya seorang mukmin ketika berfikir atas ciptaan Allah:”wahai Rabb kami, Engkau tidak menciptakan alam semesta ini dengan sia sia, Maha suci Engkau, jagalah kami dari api neraka” diajari berdoa seperti ini karena kebanyakan hidup kita tidak serius, berjam-jam, berhari-hari dilewatkan untuk hal yang tidak bernilai ibadah.

Seperti yang terjadi disekitar kita olah raga sesuatu yang baik, jika tujuannya untuk menjaga kesehatan, melatih hidup kerja sama, bersinergi, tetapi jika olah raga dijadikan kegiatan utama hidupnya, anggaran besar dari Negara hanya untuk kejuaraaan lomba sepak bola yang menyita perhatian besar mulai dari presiden, para menteri, DPR, tokoh masyarakat, seakan akan dengan menangnya Indonesia dalam merebut piala menjadi kemuliaan bangsa, padahal hidup para timnas hanya dihabiskan untuk olah raga, kemudian apa kontribusi hal tersebut dalam mencerdaskan bangsa, memajukan perekonomian, meningkatkan moralitas bangsa? Tidak ada, yang ada olah raga jadi ajang perjudian, melalaikan ibadah, kemudian yang paling berbahaya melupakan persoalan yang lebih besar. Sekali lagi bukan olah raga tidak penting, ia penting tapi kalau, diberikan perhatian yang berlebihan, kemudian menjadi bius masyarakat agar lupa ibadah, lupa porsaalan hakiki, ini yang berbahaya. Ustadz Sayyaf pimpinan mujahidin Afganistan pernah mengatakan : jika dokter ingin mengapuntasi anggota tubuh pasien, memberikan bius kepadanya agar ketika dipotong tidak terasa sakit, demikian juga barat ketika akan mengkoyak koyak tubuh kaum muslimin, mereka memberikan bius kepada kaum muslimin dengan permainan olah raga dan disibukkan dengan lomba olimpiade internasiaonal agar lupa terhadap persolan yang menimpa kaum muslimin dari penjajahan dan kerusakan kerusakan moral.

Hidup harus diisi dengan hal yang membikin kita senyum di akherat, Allah swt mengatakan : “pada hari kalian dikumpulkan di hari pengumpulan, itulah hari semua orang merasa rugi” QS At-taghabun ayat : 10, ahli sorga menyesal atas satu menit yang dilewatkan tanpa dzikrullah, ahli sorga merasa merugi atas satu menit yang lupa dari dzkrullah karena besarnya pahala dzkrullah, bagaimana orang yang melewatkan hari harinya, bulan bulannya, dan tahun tahunnya kosong dari dzkrullah atau disi dengan kemaksiatan.

Kalau diperhatikan berapa biaya yang dikeluarkan untuk pertandingan pertandingan, kemudian betapa besarnya perhatian presiden sampai memesan ratusan tempat untuk menyaksikan pertandingan, apakah sebesar itu perhatian para pembesar negeri ini atas lomba lomba ilmiah, lomba hifdzul Qur’an?

Ayat di atas menuntut kita serius dalam menghadapi kehidupan ini, kalau kita perhatikan grafik kemaksiatan besar, judi, perampokan uang Negara, maupun rakyat, minuman keras, pergaulan bebas, perusakan aqidah tauhid, tersebarnya aliran dan pemikiran sesat, kristenisasi, jauhnya masyarakat dari Allah dengan mengakarnya kesyirikan, sebaliknya shalat, baca Al-Qur’an dan mempelajarinya,dan kewajiban kepada Allah dilalaikan. walaupun dalam kondisi bencana, seperti yang disaksikan ketika adanya tsunami aceh atau merapi meletus, ratusan orang mengungsi di amsjid, mereka mendapatkan bantuan dari orang orang masjid, keuangan masjid, tapi yang shalat sangat sedikit, walauapun mereka tidur di masjid, bahkan ketika ta’mir masjid mengadakan acara tausiyah, tidak ada yang datang, ketika mereka dicari ternyata mereka didapatkan di acara hiburan campur sari yang menampilkan biduan biduan  setengah telanjang, subhanallah dalam kondisi bencana tidak ingat Allah, diingatkan tentang Allah tidak mau, bahkan dihibur dengan hal yang menambah jauh dari Allah, bahkan lebih naïf lagi ada satu pos pengungsian, dekat pos polisi, di sana bebas minum minuman keras dan judi.

Bukankan kewajiban kifayah banyak ditinggalkan, karena asumsi sudah ada yang melaksanakan, padahal fardhu kifayah menjadi beban semua orang sampai kewajiban itu dilakukan secara cukup, sampai kristenisasi terbendung, da’wah terlaksana dengan sempurna, narkoba hilang. dalam kondisi belum terlaksana dengan baik, amar ma’ruf dan nahi mungkar kewajiban semua orang, baik dengan terjun langsung atau dengan membantu sesuai dengan kemapuan sampai kewajiban tersebut terselesaikan dengan prima, di waktu itu kita bisa bebas dari dosa dan berharap ampunan Allah atas kekurangan.

Sorga Allah sangat mahal, maka harus dikejar dengan harga mahal, neraka sangat pedih maka harus dihindari dengan tebusan semahal apapun, kehidupan ini harus diisi dengan ibadah, menegakkan syari’at Allah sehingga terjaga agama masyarakat, makmurnya kehidupan mereka, terjaganya akal, dan jiwa serta kehormatan mereka dari hal hal yang merusak. jangan sampai kita dilupakan dan dilalaikan dengan tayangan telivisi, berita Koran, bacaan majalah komik yang menghancurkan produktifitas ummat Islam dalam membangun bangsa yang besar, kemudian menjaga keseimbangan hidup tanpa dengan kelalaian dan dosa.  memberiakan semua pihak akan haknya, kemudian hidup seimbang antara hak dan kewajiban, antara mihrab masjid dan kantor, Allah berkata: “ ( kaum laki laki yang tidak melalaikan mereka bisnis dan jual beli dari mengingat Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mereka takut akan hari yang mata dan hati mereka berbolak balik) QS An-Nuur ayat : 37.

Posted by: asma | January 3, 2011

refleksi nilai Al-Qur’an

Dikatakan kepada orang orang yang bertaqwa: apa yang diturunkan oleh Rabb kalian, mereka menjawab: suatu yang baik, bagi orang orang yang berbuat baik mendapatkan kebaikan di dunia, dan kampung akherat lebih biak, dan (kampung akherat itu) sebaik baik kampung orang orang yang bertaqwa, yaitu sorga ‘and mereka memasukinya, sungai sungai mengalir di bawahnya, untuk mereka apa saja yang mereka kehendaki, demikian Allah membalas orang orang yang bertaqwa, yaitu orang orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam kondisi baik jiwa mereka, mereka(Malaikat ) mengatakan: kesejahteraan atas kalian, masuklah ke sorga dengan sebab apa yang kalian kerjakan.  QS An-Nahl 30-32

Ayat di atas menerangkan konsep hidup yang indah, pertama : pandangan orang beriman terhadap Al-Qur’an dan segala aturan, perintah, larangan, dan bimbingan yang ada di dalamnya, sebagai hal yang baik, ketika orang bertaqwa ditanya apa yang Rabb kalian turunkan, yang dimaksud  dari ayat bagaimana pandangan kalian terhadap al-Qur’an dan isinya?, mereka menjawab, baik, artinya mereka memandang positif Al-Qur’an dan isinya, pandangan yang positif ini, membuat mereka bergerak untuk mengamalkannya, maka Allah berkata: bagi yang berbuat baik di dunia mendapatkan kebaikan (di dunia), inilah pandangan orang bertaqwa: bahwa dalam mengamalkan Al-Qur’an dapat dirasakan manfaatnya di dunia: produktifitas tinggi, optimis dalam pandangan hidup, berbahagia dapat berbuat baik, dan membahagiakan orang lain, orang bertaqwa tidak harus menderita atau papa di dunia, melainkan dia mendapatkan kebaikan baik kaya maupun miskin, bahkan  banyak ayat menegaskan kehidupan bahagia di dunia, Allah berkata : siapa yang beramal shaleh baik laki laki maupun perempuan dan dia beriman, sungguh Kami akan hidupkan dia dalam kehidupan yang baik, dan Kami balas di akherat dengan yang paling baik apa yang mereka kerjakan. QS An-Nahl ayat : 97, Dalam ayat lain “ siapa yang (dapat) mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hambaNya dan yang baik baik dari rizqi, katakanlah itu untuk orang beriman di dunia, dan khusus mereka pada hari kiamat QS Al-A’raf ayat : 32-33

Di dunia mendapatkan kebaikan baik miskin mapun kaya, kalau dia miskin akan hidup dengan ridha, kalau kaya bahkan jadi raja dia bersyukur seperti Raja Dawud, Sulaiman, Dzul Qornain, baik rakyat biasa maupun jadi pejabat seperti Nabi Yusuf as, kemudian mereka dinanti kehidupan yang jauh lebih baik di akherat, mereka masuk sorga dengan taman tamannya , mata airnya, dan semua yang mereka angankan, dan inginkan mereka dapatkan, coba kita perhatikan kata Allah : bagi mereka semua yang mereka kehendaki, subhanallah, semua yang dikehendaki dan diangan angankan mereka dapatkan semua, padahal di dunia berapa prosen yang kita didapatkan dari yang diinginkan, pasti sangat minim, itu saja siap melakukan berbagai hal untuk mendapatkannya, bagaimana dengan akherat mendapatkan semua yang diinginkan, apa tidak pantas untuk melakukan konsekwnsinya.

Kelihatannya masalah persepsi positif terhadap idiologi dan konsepsi Islam dalam kehidupan bangsa Indonesia mengalami masalah serius, kalau kita dapatkan orang yang melihat positifnya kapitalis, sosialis dan mati matian dalam membelanya begitu banyak, atau melihat positifnya filsafat atau ajaran kejawen walaupun suatu kesesatan sangat banyak sekali, dengan bukti seluruh even even kesyirikan seperti rebutan kue apem untuk jimat di jatinom klaten, atau rebutan bekas air yang digunakan untuk memandikan kerata kraton Surakarta, atau bludaknya orang yang menghadiri festival music, banyaknya masyarakat yang tenggelam dalam kehidupan hedonism, freesex, kehidupan glamor, itu semua karena mereka melihat positif dan baiknya apa yang mereka lakukan.

Tapi disisi lain kita lihat sepinya orang yang mau mempelajari Islam, mengamalkan dan menyebarkan Islam, hal ini karena kebanyakan masyarakat belum meyakini indahnya Islam dan hidup dengan Islam, padahal hanya dengan Islam, kehidupan itu jadi Indah, dan tidak ada kenikmatan, kebahagiaan di akherat yang kekal kecuali dengan Islam .

Al-Islam yang tergambar dalam Qur’an dan Sunnah adalah dari Allah pencipta Alam semesta, yang Mahasempurna dalam segala galanya, pasti baik dan sempurna pula, dan pasti membawa kehiduapn yang sempurna pula, dunia dan akherat, Di Dunia  bahagia dengan keyakinan yang kuat kepada Allah, keyakinan ini akan memotivasi untuk memaksimalkan potensinya untuk berbuat yang terbaik, dengan bimbingan Allah swt, dengan keyakinan bahwa Allah tidak menyia nyiakan amalnya sekecil apapun, dan dengan keyakinan bahwa balasan akherat jauh lebih besar dari apa yang diterima di dunia. Perumpamaan kenikmatan dunia dan akherat seperti orang yang memasukkan jarum ke lautan di mana air yang menempel di jarum adalah kenikmatan dunia sedang yang masih di lautan adalah kehidupan akherat.

Kemudian firman Allah “ orang yang yang diwafatkan malaikat dalam kondisi baik, para malaikat mengatakan : kesejahteraan atas kalian, masuklah sorga dengan sebab yang kalian lakukan. Memberikan gambaran tentang refleksi aqidah yang baik akan menjadikan orang istiqamah dalam kebajikan sampai meninggal dunia, malaikat mencabut nyawa mereka dengan lemah lembut, malaikat rahmat menyambut mereka dengan mesra, kesejahteraan atas kalian, “ malaikat malaikat turun menyambutnya sambil mengatakan: jangan kalian sedih, jangan kalian takut dan bergembiralah, dengan sorga yang kalian di janjikan, kami sebagai wali kalian dunia dan akherat, buat kalian apa yang kalian inginkan dan buat kalian apa yang kalian minta.

Kebahagian hakiki, mana kala kita melihat yang baik itu baik, yang benar itu benar, melihat Islam, syariatnya, perintah larangannya, aturannya, sistemnya baik, kemudian mengamalkannya, dan merasakan kebahagiaan dalam mengamalkannya kemudian mati dalam amal shaleh, dikatakan dalam hadits: sesungguhnya jika Allah menghendaki terhadap hambaNya suatu kebaikan, Allah pekerjakan dia, para sahabat berkata: bagaimana Allah memperkerjakan dia, Nabi menjawab, Allah berikan taufiq dia untuk beramal kebajikan kemudian Dia wafatkan dalam kondisi beramal baik, alang indahnya orang yang meninggal ketika berda’wah, atau berjihad, atau ketika sujud atau ruku’ atau membaca Al-Qur’an. Alang indahnya kehidupan yang baik, dan dirasakan kebaikannya oleh lingkungannya yang dekat dan jauh, pasti dia bahagia karena hidupnya bermanfaat, dan bahagia karena dicintai oleh orang banyak.

Pandangan dan aqidah baik terhadap Islam sangat perlu dibina dengan membaca sumber nilai, bertawakkal dan berdoa kepada Allah secara terus menerus, Rasulullah mengajari kita doa “ ya Allah tunjukilah kepadaku yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepadaku untuk mengikutinya, tunjukilah kepadaku yang batil itu batil, dan berikan kekuatan kepadaku untuk menjauhinya, (Mukhtashar Ahkam At-Thushi) Nabi saw tak henti hentinya berdoa : wahai Dzat Yang membolak balikkan hati tetapkanlah aku dalam agamaMu, Wahai Dzat yang memalingkan hati palingkanlah aku dalam ketaatan kepadaKu. HR Hakim

Posted by: asma | December 20, 2010

Ketegasan Pemimpin

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan satu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan siapa tidak  meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS Al-Baqarah 249

Ayat di atas menjelaskan tentang strategi Thalut dalam menyeleksi dan menguji kwalitas tentaranya, keikhlasan dan ketegaran mereka dalam menghadapi godaan, dengan memperingatkan bahwa mereka akan diuji dengan sungai yang jernih, sementara mereka dalam kondisi haus, ditegaskan bahwa mereka tidak diizinkan meminumnya kecuali sekedar menceduk dengan tangan sekali saja, subhanallah tidak diizinkan kecuali seceduk dengan telapak tangan sekali saja. Siapa yang melebihi itu dikeluarkan dari barisannya, sebab orang yang tidak tahan terhadap ujian itu, tidak akan mampu berjihad dan mudah menyerah ketika menghadapi musuh.

Demikian ketegasan Thalut dalam menilai tentaranya, kalau dengan logika murni, barangkali dikatakan harusnya orang yang minum dalam kondisi haus dimaklumi apalagi  dalam kondisi jihad, tapi ini adalah ujian, dan sudah diwarning sebelumnya dengan ujian ini. Maka orang yang melanggarnya tidak ditolerir. Kalau ini ujian dari minum air, bagaimana dengan sekarang yang diuji dengan syahwat kekuasaan, seksual, popularitas, hendaklah pemimpin bersikap lebih tegas dalam hal ini.

Da’wah dan jihad adalah perjuangan mengalahkan musuh internal hawa nafsu dan external orang kafir yang disimbulkan dalam ayat ini oleh thalut dengan sungai dan Jalut.  ketegasan Thalut sangat nampak dengan ungkapannya, siapa yang yang meminumnya bukanlah ia dari golonganku, dan kalaupun ada keringanan diterangkan dengan  jelas, kecuali orang yang menceduknya dengan satu cedukan dengan tangan sekali.

Ketegasan Thalut bermanfaat dengan diketauinya orang yang consistent, yang kemudian menjadi modal utama dalam jihad, ya, jumlah mereka sedikit, tapi dengan mereka, Allah memberikan kemenangan, adapun orang yang gagal dalam ujian maka mereka orang yang membikin yang lainnya kehilangan percaya diri, dengan ungkapannya” tidak ada daya bagi kami dalam menghadapi Jalut” mereka pemgecut dan mengajak yang lainnya jadi pengecut. Maka Thalut menampakkan ketegasan dalam menghadapi fenomena ini dengan menjelaskan akan adanya ujian, dan menerangkan sikapnya terhadap yang gagal dalam ujian.

Di antara misi pokok pemimpin adalah mendidik dan membawa yang dipimpinnya untuk komitment dengan aturan dan etika atau adab yang baik, anatomi psikologi masyarakat sama dengan individu, jika dibiasakan komitment dengan aturan main maka akan terbiasa disiplin aturan, dan jika dibiasakan lepas kendali dari aturan, semua berjalan dengan kehendak masing masing, sehingga sulit untuk teratur. Dari sini seorang pemimpin dituntut untuk memiliki jiwa dan sikap tegas dalam menegakkan hukum dan aturan, walaupun harus dibarengi kelemah lembutan dan hikmah yang tinggi. Kelemah lembutan tanpa mengorbankan prinsip , dan ketegasan tanpa disertai kekerasan yang membawa kedhaliman dan kekakuan.

Tatanan jama’ah, masyarakat dan negara yang baik adalah jika aturannya jelas, mana yang wajib, dan anjuran, yang halal, dan yang haram, dan mana yang dalam ruang lingkup diperbolehkan dan boleh memilih dengan reseoning yang jelas pula, dan ini dari sisi aturan, demikian juga sikap pemimpin dalam implementasi hukum tersebut harus tegas, Rasulullah jika diminta untuk memilih beliau pilih yang paling mudah selama tidak ada dosa, dan jika ada dosa beliau paling jauh dari hal yang diharamkan.

Rasulullah telah menerangkan yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Maka beliau membawa umatnya untuk menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, beliau marah besar ketika ada yang bersumpah akan mengharamkan terhadap dirinya yang dihalalkan oleh Allah.

Rasulullah tegas dalam sikap baik kepada dirinya maupun kepada para sahabatnya, kepada dirinya, Rasulullah mengatakan berkenaan dengan kurma yang jatuh: kalaulah bukan karena khawatir bahwa kurma itu dari shadaqah niscaya beliau memakannya. Beliau ketika melihat cucunya makan kurma shadaqah, beliau langsung mengeluarkannya dari mulutnya, dan mengatakan sesungguhnya shadaqah tidak halal bagi kita. Suatu saat beliau setelah salam dari shalat subuh bergegas masuk kerumah dan kembali ke masjid seraya memberitahu sahabat bahwa beliau lupa kalau ada shadaqah yang belum dibagikan, dan beliau tidak mau kalau shadaqah itu menginap di rumah beliau sehingga beliau bagikan.

Rasulullah tegas dalam menetapkan hukum, ketika ada keinginan para sahabat untuk meminta kepada beliau agar beliau memaafkan seorang wanita yang mencuri karena dari bangsawan, beliau marah besar dan segera naik mimbar dan berkhutbah dan diantara yang beliau katakan: tiada lain yang membinasakan orang terdahulu, jika ada dari kalangan rakyat miskin mencuri mereka melakuakan hukuman atasnya, sedang jika yang mencuri orang bangsawan, mereka membiarkannya sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya. HR Bukhari

Ketika Abu Dzar yang sangat dekat dengan beliau meminta supaya diberi jabatan beliau mengatakan ” wahai Abu Dzar engkau adalah orang lemah ” (dalam masalah kepemimpinan) dan kepemimpinan itu penyesalan, dan kehinaan kecuali orang yang menerimanya dengan kredibel dan kapabel. Jangan sampai engkau menjadi wali anak yatim. HR Muslim, no : 1825

Pemimpin yang bersikap tegas dalam memutuskan perkara, tidak ragu ragu untuk menjalankan segala keputusan setelah melalaui proses yang baik, merupakan kepemimpinan yang diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik.

Rasulullah setelah bersyura dan syura memutuskan untuk menghadapi musuh di uhud beliau segera mengenakan baju perangnya, dan ketika para sahabat muda menyesal kenapa seakan akan memaksa Nabi untuk perang ke luar kota, dan meminta Rasul untuk merubah keputusannya, beliau mengatakan: ” tidak pantas bagi seorang Nabi jika telah memakai baju perangnya, tidak menanggalkannya sampai Allah memutuskan perkaranya.

Ketegasan sikap harus didukung adanya aturan yang jelas, kefahaman yang jelas pula terhadap aturan, serta memahami mana yang harus tegas dalam memilih dan mana yang boleh memberikan opsi, bentuk ketegasan pula melarang memaksa orang untuk memilih satu pilihan sementara dalam masalah orang bisa memilih, maka dalam masalah haji Rasulullah saw : tidak ditanya tentang manasik yang diajukan atau diakhirkan beliau mengatakan : lakukan dan tidak ada masalah.

Ketegasan harus didukung pula pemahaman terhadap hal hal yang qat’i permanen prinsip yang tidak boleh ditawar tawar, dan mana yang masuk dalam ruang lingkup ijtihad dan bersifat individual yang semua orang boleh menentukan sikap dan pilihannya, serta memahami maqasid syari’ah dalam menentukan mslahat dan  madharat.

Ketegasan didukung juga oleh tidak didominasi oleh perasaan, dan emosi, apa itu perasaan sendiri maupun perasaan orang lain yang mendominasinya, Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia[361] Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. QS An-Nisa’ ayat : 135.

Ketegasan adalah kekuatan tekat untuk melaksanakan pilihan dan keputusan yang dianggap baik, bukan bentuk kedhaliman, maka tegas bisa berupa melaksanakan hukuman terhadap yang salah dan tidak dipengarui perasaan sayang sehingga menunda atau membatalkan hukuman, Allah berfirman berkenaan hukuman zina : Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. QS aN-Nur ayat : 2

Atau mengatakan suatu perkataan yang keras jika ada manfaatnya, seperti dalam masalah orang munafiqin : “  Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. An-Nisa’ : 63.

Atau menolak memberi orang yang tidak boleh diberi, seperti yang Rasulullah lakukan terhadap dua pemuda yang minta diberi zakat padahal keduanya kuat dan mampu berusaha, Nabi mengatakan, zakat tidak boleh untuk orang yang kaya dan orang kuat yang mampu usaha” HR Ahmad Abu Dawud Nasai.

Ketegasan juga ada dalam memerangi dan keras terhadap orang yang harus diperangi dan bersikap keras terhadapnya. Allah berfirman : ” Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan Ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.  At-Taubah ayat : 123.

Tapi dibalik itu ketegasan harus berani memberi orang yang harus diberi, memaafkan orang yang harus dimaafkan, mengakui salah kalau memang salah, mengoreksi dan memperbaiki kesalahan, Rasul bersabda : bukanlah orang yang kuat yang dapat menjatuhkan manusia, tapi orang yang mampu mengusai dirinya dalam kondisi marah.

Posted by: asma | December 19, 2010

Mengembalikan Jati Diri Ummat Islam

Tidak ada alasan bagi kaum muslimin kecauli menjadi ummat terbaik, menjadi ummat terbaik merupakan kewajiban yang utama bagi kaum muslimin, karena Allah swt adalah Rabb dan Ilaah yang sempurna, Dia mencintai kesempurnaan, menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik, Nabi Muhammad saw adalah Nabi yang terbaik, Al-Qur’an sebagai kitab yang paling sempurna, petunjuk yang terbaik kepada kehidupan yang paling sempurna, menjadikan Islam Diin yang sempurna, “Hari ini telah Aku sempurnakan buat kalian diin kalian, dan kusempernakan atas kalian nikmatKu, dan aku Ridhai buat kalian Islam sebagai diin kalian”QS Al-Maidah ayat : 3. Allah menempatkan kaum muslimin secara konsep teoritik sebagai ummat terbaik, imam bagi seluruh manusia, panutan, guru pendidik, dan pemimpin. Allah berkata” Kalian adalah ummat yang terbaik yang dipersembahkan kepada manusia, kaian memerintahkan yang baik, melarang yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”QS Ali-Imran ayat : 110. Tapi kedudukan yang mulia ini, tidak diberikan kecuali jika kaum muslimin memilki jati diri yang jelas dan mapan, maka Umar bin Khattab pernah menyalahkan orang yang memahami ayat di atas sebagai kondisi kaum muslimin semuanya, beliau mengatakan bahwa yang dimaksudkan ayat diatas adalah para sahabat, untuk itu Allah menggunakan kata : kuntum khoira ummat, kalau yang dimaksudkan kaum muslimin sepanjang masa mestinya menggunakan redaksi ” antum khaira ummat“, kemudian beliau mengatakan : ” jika kalian ingin masuk golongan ini hendaklah menunaikan syarat syaratnya yaitu : amar ma’ruf nahi mungkar dan iman kepada Allah” Jati diri umat Islam yang pertama adalah :Iman  kepada Allah dan semua yang ghaib yang Allah beritakan melalui wahyunya, iman terhadap yang ghaib (segala yang ada tapi tidak dapat dijangkau oleh panca indera) merupakan jati diri utama kaum muslimin, iman ini mengeluarkan manusia dari derajat kebinatangan materialisme kepada puncak insaniyatul insan, yang memiliki idealis tertinggi, ridha Allah, bahagia  dunia akherat. Jati diri kedua sebagai ummat yang berilmu yang koprehensif dan integrative tidak dikotomitik dalam ilmu, semua ilmu yang bermanfaat dunia akherat adalah ilmu addin, ilmu yang mencakup wasaail (sarana) dan ghayat (tujuan), ilmu syari’ah dan tecknologi saling melengkapi, ayat pertama surat Iqra’ mengajarkan agar selalu membaca semua ciptaan dengan nama Allah sebagai Rabb, yang menunjukkan bahwa membaca dan belajar adalah untuk mendidik diri agar menjadi manusia yang paling mulia, yaitu paling bertaqwa, yang memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat. Jati diri ketiga selalu berusaha melakukan terbaik dalam segala hal, pada semua level dan posisinya, Allah berkata : Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang paling baik amalnya QS Al-Mulk ayat : 2, melakukan segala pekerjaan dalam rangka ibadah, dengan penuh keikhlasan dan mutabaa’ah sunnah Rasul, melakukan segala pekerjaan dengan ihsan (baik) dan itqan (teliti)”. Jati diri ketiga : memiliki akhlaq rabbaniyah, akhlaq kepada Allah dengan ‘ubudiyah yang sempurna, akhlaq kepada manusia dengan sikap adil dan ihsan, akhlaq kepada alam semesta dengan khlifahnya membangun, dan memberdayakan potensi alam dengan ihsan. Jjjati diri keempat : bangga dan Ridha dengan Islamnya, kebanggaan dengan Islam, yang melahirkan Izzah dengan syari’ah Islam, tanpa kesombongan dan kedhaliman, menolak segala kedhaliman, membalasan keburukan dengan kebaikan. Tegas terhadap segala kekufuran dan kemaksiaatan, lemah lembut sesama kaum muslimin, adil dengan semua manusia, termasuk orang kafir selama mereka tidak memusuhi kaum muslimin, berbuat baik kepada mereka, selalu siap bekerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan. Stategi Mengembalikan Jati Diri Kaum Muslimin. Imam Malik pernah berkata: tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali dengan apa yang awal ummat ini menjadi baik dengannya, dan hanya dengan berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw ummat Islam terdahulu menjadi ummat terbaik, maka strategi mengembalikan jati diri ummat Islam sekarang ini dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw yaitu : 1-            Membangun iman dan Islam pada jiwa umat Islam. Telah banyak ditegaskan dalam Al-Qur’an maupun sunnah Nabi saw keterkaitan kemenangan kaum muslimin, kejayaan mereka dengan iman kepada Allah dan hari akhir, sebagaimana perintah untuk beramal shaleh dan berakhlaq baik dikaitkan dengan iman kepada Allah, RasulNya dan hari akhir, ini menunjukkan bahwa iman adalah dasar munculnya amal shaleh sebagai landasan jati diri kaum muslimin, Allah berkata  Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. QS Ibrahim ayat 24-25. Jati Diri kaum muslimin hanya pada pemahaman yang benar terhadap Islam, mengamalkannya, bangga dengannya, mendakwahkannya, Allah berkata : “maka saksikanlah sesungguhnya kami orang orang yang menyerahkan diri” . iman menjadikan seluruh dunia sebagai sarana mencari Ridha Allah, tidak terlenakan dengan dunia dari mengingat Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berda’wah dan berjihad, hati selalu terikat dengan akherat, tidak membanggakan dunia, dan tidak diperbudak dengan dunia. 2-mengembalikan kaum muslimin kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw sebagai rujukan sistem hidup,  Nabi bersabda : “telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, tidak akan sesat selama lamanya, kitab Allah dan Sunnah RasulNya”. Allah telah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kemuliaan Nabi dan Umatnya dan tidaklah Al-Qur’an sebagai sumber kemulianan kecuali jika dipelajari dan diamalkan. Sumber jati Diri seseorang terletak pada idealis dan nilai yang dibawa, idealis seseorang ada pada apa yang dibaca dan dan didengar, terletak pada refrensi hidupnya, maka jika ingin membangun jati diri kaum muslimin harus dimulai dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan. Tidak kalah pentingnya dalam hal ini, hendaklah kaum muslimin mempelajari Islam, mempelajari Al-Qur’an kepada Ahlinya para ulama yang mengambil ilmu dari para masyayikh mu’tabarin. 3-                  membanggun Islamic worldview, yaitu memahami hakekat Uluhiyyah (ketuhanan), Ubudiyah (penghambaan), manusia, alam semesta, kehidupan, berdasarkan pandangan hidup Islam yang bersumber pada wahyu. Yang membedakan Islam dan kufur bukan shalat, bukan pula puasa, zakat atau haji, sebab orang orang munafiq bisa melakukan itu semua, tapi yang membedakan adalah pandangan hidup atau idiologi, yang berlandaskan pemahaman terhadap lima hakekat besar ((ketuhanan), Ubudiyah (penghambaan), manusia, alam semesta, kehidupan, berdasarkan pandangan hidup Islam yang bersumber pada wahyu.) diatas yang melahirkan sistem hidup dan aktifitas hidup yang berlandaskan idiologi yang diyakini. 4-      Menjadikan tarbiyah Rabbaniyah (kaderisasi) sebagai motor penggerak, pencetak genarasi, penjaga jati diri kaum muslimin, Allah telah menyebutkan tarbiyah sebagai hal yang melahirkan kaum muslimin, sebagaimana Allah katakan: “Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” QS Al-Baqarah ayat : 129 Tarbiyah merupakan penjaga identitas kaum muslimin Allah berkata : Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. QS Al-Baqarah ayat : 151 Identitas diri kaum muslimin terdahulu dbangun Rasulullah dengan tarbiyah yang mencakup tilawah, tazkiyah, ta’limul kitab dan sunnah, dan kesesatan bagi yang tidak mendapatkan tarbiyah Rasul, dan ini berlangsung samapi hari kiamat, karena kenikmatan diutusnya Rasul bukan berhenti pada fisik beliau , melainkan pada misi tarbiyah beliau. 5- Hidup berjamaah, dengan syari’ah sebagai imamnya, dan para ulama rabbaniyyin sebagai pembimbing dan pemimpinna, membangun wala’ loyalitas untuk kaum muslimin dalam rangka ta’awun atas kebaikan, amar ma’ruf nahi mungkar, saling melindungi, dan bersama sama menegakkan Islam, Allah berkata tentang jati diri kaum muslimin:  AL Anfal :74.  Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Terahir kali Jati diri kaum muslimin tidak akan diraih dengan sekedar ceramah, seminar atau diskusi, melainkan bersungguh sungguh secara sistematis mempelajari Islam, dan mengamalkannya dan mendakwakannya, dan berjihad bersungguh sungguh dalam memenangkan Islam dalam kancang dialetika idiologi.  Allah berkata : Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong. QS Al-Haj ayat : 78

Posted by: asma | December 18, 2010

Nuurul Bashaair (tafsir analitik) . Al Fatihah

Surat al fatihah diturunkan di Makkah menurut kebanyakan ulama demikian yang dinukil oleh Imam Baghowi. imam Mujahid  berpendapat ayat ini diturunkan di Madinah. Dan ada yang berpendapat bahwa ia turun dua kali, di Makkah dan Di Madinah, oleh karena itu dikatakan sebagai Matsani (yang diulang turunnya). Yang benar adalah diturunkan di Makkah, karena Allah menyebutkan dalam surat Al-Hijr nikmat diturunkannya Al-Fatihah kepada Rasulullah, dan al-Hijr adalah surat Makkiyah.

Sebagaimana kata Allah :

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ (87)

Dan Sungguh Kami telah memberikan kepadaMu tujuh yang diulang ulang, dan Qur’an yang agung.

Surat ini memiliki beberapa nama,  yang paling masyhur adalah al-fatihah (pembuka) karena sebagai pembuka mushaf Al-Qur’an, nama yang lainnya : sab’a matsani(tujuh yang diulang ulang) karena diulang-ulang dibaca dalam shalat.  Ummul Kitab(induknya Al Kitab)karena sebagai pokoknya isi Al-qur’an Al-Karim.

Surat ini merupakan surat yang agung yang memiliki fadhilah yang besar.

عن أبي هريرة قال “مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على أبي بن كعب وهو قائم يصلي فصاح به فقال: تعالى يا أبي فعجل أبي في صلاته، ثم جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ما منعك يا أبي أن تجيبني إذ دعوتك؟ أليس الله يقول: “يا أيها الذين آمنوا استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم”( 24-الأنفال ) قال أبي: لا جرم يا رسول الله لا تدعوني إلا أجبتك وإن كنت مصليا. قال: أتحب أن أعلمك سورة لم ينزل في التوراة ولا في الإنجيل ولا في الزبور( ولا في القرآن ) مثلها؟ فقال أبي: نعم يا رسول الله فقال: لا تخرج من باب المسجد حتى تعلمها والنبي صلى الله عليه وسلم يمشي يريد أن يخرج من المسجد فلما بلغ الباب ليخرج قال له أبي: السورة يا رسول الله. فوقف فقال: نعم كيف تقرأ في صلاتك؟ فقرأ أبي أم القرآن فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذي نفسي بيده ما أنزل في التوراة ولا في الإنجيل ولا في الزبور ولا في القرآن مثلها وإنها لهي السبع المثاني( التي ) آتاني الله عز وجل”  هذا حديث حسن صحيح.

dari Abu Huroirah ra berkata: Rasulullah saw melewati Ubay bin Ka’ab sedang Shalat dan memanggilnya, kemari wahai Ubay, Maka Ubay menyegerakan Shalatnya, lantas mendatangi Nabi saw, dan Nabi bersabda: apa yang menghalangi engkau untuk menyambutku ketika aku memanggilmu, bukankah Allah berkata : wahai orang orang beriman sambutlah Allah dan Rasulnya jika memanggil kalian untuk (sesuatu yang) menghidupkan (hati) kalian. Al-Anfal ayat : 24. Ubay berkata: pastilah, Wahai Rasulullah aku menyambutmu jika engkau memanggilku, walaupun aku sedang shalat. Nabi bersabda : apakah engkau mau aku aku ajari surat yang tidaklah turun di taurat, injil maupun di Al-Qur’an sepertinya, Ubay mengatakan: yaa, wahai Rasulullah, Nabi bersabda: tidaklah engkau keluar dari masjid sehingga engkau mengetahuinya, dan Nabi berjalan ingin keluar dari Masjid, tatkala sudah sampai pintu, mau keluar (masjid), Ubay berkata kepada beliau, surat apa wahai Rasulullah. Lantas beliau berhenti, dan bersabda : yaa, bagaimana engkau membaca dalam shalatmu, lantas Ubay membaca Al-fatihah, dan Rasulullah bersabda : Demi Dzat yang diriku di tanganNya tidaklah diturunkan dalam Taurat, Injil, Zabur, maupun Al-Qur’an sepertinya, dan ia adalah sab’a matsani (tujuh ayat yang diulang ulang) yang Allah berikan kepada saya. Ini hadits Shahih hasan.HR Tirmidzi dan Hakim.

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: “بينا رسول الله صلى الله عليه وسلم عنده جبريل إذ سمع نقيضا من فوقه فرفع جبريل عليه السلام بصره إلى السماء فقال: هذا باب فتح من السماء ما فتح قط، قال: فنزل منه ملك فأتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك. فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة ولن تقرأ حرفا منهما إلا أعطيته”  صحيح [أخرجه مسلم عن الحسن بن ربيع عن أبي الأحوص]

Dari Ibnu Abbas ra berkata : tatkala Rasulullah saw disampingnya ada jibril tiba tiba mendengar suara (seperti mengetuk pintu) dari atasnya, maka jibril mengangkat pandangannya ke langit, dan berkata :ini (adalah) pintu dari langit, tidak pernah dibuka sama sekali sebelumnya, kemudian turunlah malaikat dan mendatangi Nabi saw lantas berkata: bergembiralah dengan dua cahaya yang engkau diberikan keduanya, tidak ada yang diberikan seorang Nabipun sebelummu, fatihah al kitab, dan penutup surat Al Baqarah, tidaklah engkau membaca satu hurufpun, kecuali engkau diberi (apa yang engkau minta) HR Muslim. Hadits di atas menunjukkan bahwa al-fatihah dapat digunakan wasilah doa apa saja kepada Allah swt.

tersebut dalam hadits berikut:

عن العلاء بن عبد الرحمن أنه سمع أبا السائب مولى هشام بن زهرة يقول: سمعت أبا هريرة رضي الله عنه يقول. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من صلى صلاة لم يقرأ فيها بأم القرآن فهي خداج (3) غير تمام” قال: قلت يا أبا هريرة إني أحيانا أكون وراء الإمام فغمز ذراعي وقال: اقرأ بها يا فارسي في نفسك فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “قال الله عز وجل قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين نصفها لي ونصفها لعبدي ولعبدي ما سأل” فإذا قال العبد { الحمد لله رب العالمين } قال الله حمدنى عبدى فإذا قال { الرحمن الرحيم } قال الله أثنى على عبدى فإذا قال { مالك يوم الدين } قال مجدنى عبدى وإذا قال { إياك نعبد وإياك نستعين } قال هذا بينى وبين عبدى ولعبدى ما سأل فإذا قال { اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين } قال هذا لعبدى ولعبدى ما سأل أخرجه عبد الرزاق : 2767) ، وأحمد :7823، وأبو داود :821، ومسلم :395، والترمذى :2953 ، وقال : حسن . والنسائى : 909) ، وابن ماجه : 3784) ، وابن حبان : 1784.

Dari ‘Ala’ bin Abdur Rahman bahwa beliau mendengar Aba Saib maula Hisyam bin Zuhrah berkata, akau mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: siapa yang shalat dan tidak membaca ummu Qur’an maka shalatnya cacat catat cacat tidak sempurna, Abu Saib berkata : kadang kadang aku dibelakang imam, Lantas dia mencubit lenganku, dan berkata: bacalah di hatimu, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda : Allah berfirman : Aku membagi shalat antara Aku dan hambaKu dua bagian separuhnya untukKu dan separauhnya untuk hambaKu, dan untuk hmabaku apa yang dia minta, jika hamba berkata: al-hamdu lillah rabbil ‘aalamin, Allah berfirman : hambaKu memujiKu, dan jika ia membaca”arrahmaan ar-rahiim, Allah berfirman : hambaKu menyanjungKu, jika ia membaca :” maaliki yaumiddin” Allah berfirman : hambaKu mengagungkan Aku, dan jika ia membaca: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, Allah berfirman : ini antara aku dan hambaku, dan buat hambaku apa yang ia minta, jia ia membaca : ihdina shiraatal mustaqiim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim wa laadhaaliin, Allah berfirman : ini untuk hambaku dan buatnya apa yang ia minta.

Surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat menurut konsesus ulama, tapi mereka berselisih apakah basmalah termasuk bagian dari alfatihah atau tidak. imam Malik berpendapat basmalah bukan dari alfatihah, melainkan dijadikan pembuka surat seperti pada surat surat lainnya, sedang imam Syafi’I berpendapat basmalah bagian dari alfatihah, tapi semua tetap mengatakan jumlah ayatnya tujuh, yang mengatakan basmalah bukan dari alfatihah, firman Allah shirathal alladzina an’amta ‘alaihim, ayat yang ke enam, sedang setelahnya ghoiril maghdzuubi samapi akhir adalah ayat yang ketujuh, adapun yang mengatakan basmalah bagian alfatihah, firman Allah: shirathal alladzina an’amta ‘alaihim sampai akhir ayat adalah ayat yang ketujuh.

Ayat pertama :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.

Ayat ini bagian dari surat an-naml, Bilqis berkata :

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (29) إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (30) أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (31)

“ wahai para pembesar, sesungguhnya aku dikirimi surat yang mulia, surat itu dari Sulaiman, dan isinya :bismillahirrahman ar-rahiim, janganlah kalian menyombongkan diri atasku, dan datanglah kalian kepadaku dalam dalam kondisi menyerahkan diri kepada Allah (muslimin).”

(بسم الله) artinya dengan nama Allah, kata ba’ disini memiliki pengertian ragam, pertama : atas nama, yang kedua: dengan meminta pertolongan nama Allah swt, ketiga: bersama nama Allah, keempat dengan system dan cara Allah swt.

Jadi ketika membaca bismillah, seseorang menegaskan bahwa melakukan apa saja yang dimulai dengan namanya, melakukannya atas nama Allah, analoginya seperti seseorang melakuakn sesuatu atas nama presiden yang nama akan mendapatkan legitimasi yang kuat, dan seorang muslim melakukan segala sesuatu atas nama Allah yang memiliki konsekwnsi apa yang dilakukan harus mendapatkan mandate Allah, yang kedua melakuan dengan meminta pertolongan Allah, karena melakukannya dengan legitimasi dari Allah, yang ketiga: melakukannya bersama bimbingan Allah dan perhatianNya, dan keempat melakukannya dengan manhaj system dan cara Allah swt. Maka dengan basmalah keberkahan dan kesuksesan pasti diraih.

Bismillah mengajarkan karena perbuatan muslim harus dilakukan dengan bismillah, bukan dengan nama lainnya, maka perbuatannya harus baik, karena tidak mungkin seorang mencuri dengan nama Allah.

Kalimat bismillah memerlukan adanya kalimat yang lainnya yang tidak disebutkan dalam ayat ini, dan bisa diperkirakan dengan bismillah aku membaca, menulis, membeli atau yang lainnya, dan tidak disebutkannya kalimat yang terkait dengannya, agar bisa dimunculkan semua perbuatan, perkataan dan segala yang baik.

Bismillah mengajarkan agar melakuakn segala sesuatu dengan dzikrillah, dan tidak salah ketika ada mewajibkan bismillah dalam segala amalan, tanpa bismillah dan dzikrullah semua amalan terputus keberkahannya: Nabi bersabda :

كل أمر ذى بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم أقطع (الرهاوى فى الأربعين عن أبى هريرة) وهو حديث حسن .

Semua perkara yang penting tidak dimulai dengan bismillah arrahman arrahim terputus (berkahnya)

Dalam riwayat yang lebih banyak “ tidak dimulai dengan memuji Allah, maka amalan itu terputus.

Membaca bismillah diajarkan oleh Allah dan RasulNya dalam banyak kesempatan, ketika makan : Rasulullah mengatakan kepada Umar bin Salamah anak istri beliau Umu Salamah:

يا غلام سم الله وكل بيمينك وكل مما يليك.

Wahai anak bacalah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang dekat denganmu. HR Muslim no : 2022

Dan ketika tidur membaca:

باسمك اللهم أحيا وأموت

Dengan namaMu ya Allah aku hidup dan mati (Hadits Muttafaqun ‘alihi)

Dalam hadits lain nabi berdoa :

أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ، فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ: بِاسْمِكَ، رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي، فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا، فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ الصَّالِحِينَ

Dari Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda : jika seorang diantara kalian rebahan di tempat tidurnya, hendaklah mengibaskan sprei dalamnya karena ia tidak tahu apa yang di dalamnya kemudian membaca. Dengan namaMu Rabbku aku meletakkan lempengku dan dengan NamaMu aku angkat, jika engakau tahan jiwaku rahmatilah dia dan jika Engkau lepaskan jagalah dia dengan apa yang engkau menjaga orang orang shalih. Bukhori Muslim.

Nama Allah disebut ketika mau mendatangi istri, agar anak yang ditakdirkan lahir terjaga dari setan, dalam hadits disebutkan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا ثُمَّ قُدِّرَ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا ».

Dari ibnu Abbas berkata, Nabi saw berkata: kalaulah seorang diantara kalian jika ingin mendatangi keluarganya membaca : bismillah Allahumma jannibnaa Asyaithana wa jannibna shataana maa razaqtana” dengan nama Allah ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami, kemudian ditakdirkan antara keduanya anak setan tidak membahayakannya selamanya.

Bismillah dibaca ketika naik kendaraan sebagaimana firman Allah kepada Nabi Nuh ketika naik kapal penyelamat Allah berkata :

وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Allah berkata : naiklah ke kapal dengan nama Allah perjalanannya dan merapatnya, sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun Maha Penyayang.

Melakukan segala amalan dengan nama Allah merupakan suatu kemuliaan dan kebahagiaan, karena nama Allah yang kita sebut memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Arrahman adalah yang Maha Penyayang, rahmatNya meliputi seluruh maghluqNy, semua mendapat rahmat Allah, muslim atau kafirnya, manusia atau binatangnya, Rahmat Allah Maha Luas tidak ada batas.

Rahmat Allah diberikan kepada orang mukmin maupun kafir hanya orang beriman menerima dengan iman dan syukur maka rahmat tersebut melahirkan nikmat dan kasih saying Allah, sementara orang kafir menerima rahmat Allah dengan kufur maka rahmat tersebut menjadi laknat atasnya di akherat kelak.

Rahmat Allah tanpa batas,  walaupun yang Dia turunkan di dunia hanya satu bagian sedang yang 99 bagian, Allah akan berikan kepada orang orang beriman di akhirat, Rasulullah bersabda apa yan diriwayatkan oleh Abu Huroirah :

«جعل اللهُ الرحمةَ مائةَ جُزءٍ، فَأمسَكَ عندهُ تِسعة وتسعينَ ، وَأَنزَلَ في الأرضِ جُزءا واحدا ، فَمِن ذلكَ الجزءِ تَتَراحَمُ الخلائق ، حتى تَرْفَعَ الدابةُ حافِرَها عن ولدها خشيةَ أن تُصيبَه».هذه رواية البخاري، ومسلم

Allah menjadikan rahmat seratus bagian, Dia tahan di sisinya 99 dan Dia turunkan ke bumi satu bagian, dengan satu bagian itu semua maghluq saling menyayangi, sehingga binatang mengangkat kakinya dari anaknya takut mengenainya.

وللبخاري: أَنَّ رسولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قال : «إِنَّ الله خَلقَ الرَّحْمَةَ يومَ خلَقَهَا مائةَ رحمةٍ، فَأْمسَكَ عندهُ تسعة وتسعينَ رحمة ، وأرسلَ في خَلقِهِ كلِّهم رحمة واحدة، فَلو يَعلمُ الكافرُ بِكلِّ الذي عند اللهِ من الرحمةِ لم يَيْأسْ مِن الجنة، ولو يعلم المُؤمن بكل الذي عندَ اللهِ من العذابِ لم يَأْمَن من النار».

Dalam riwayat Bukhori sesungguhnya Rasulullah saw berkata : sungguh Allah menciptakan rahmat pada hari Dia ciptakan seratus rahmat, lantas Dia tahan di sisinya 99 rahmat, dan Dia kirim diantara maghluqnya semuanya satu rahmat, kalau orang kafir mengetahui apa yang di sisi Allah dari rahmat tidak akan putus asa dari sorga, dan kalau orang beriman mengetahui apa yang disisi Allah dari Adzab tidak aman dari neraka.

Kita bisa membayangkan semua kekayaan alam semesta, semua kebahagiaan, kasih sayang sesama maghluq sejak zaman awal diciptakan dunia sampai hari kiamat, semua hanya satu bagian dari seratus bagian rahmat Allah swt, maka silahkan bayangkan betapa nikmatnya jika dikalikan seratus kali kenikmatan.

الرحيم Arrahim berarti yang Maha Kekal kasih sayangnya, Sifat Ar-rahim berkaitan dengan orang orang beriman, kasih sayang Allah dengan mereka tidak putus putusnya, sejak sebelum diciptakan, sampai tidak ada batasnya, bahkan ketika meninggal ia dalam perjalanan mendapatkan kesempurnaan rahmat Allah.

Allah berkata :

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dialah Allah yang bershalawat kepada kalian demikian para malaikatNya untuk mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya dan adalah Dia Maha Menyayangi orang orang beriman.

Kesimpulan :

1- Bacaan bismillah ar-rahman ar-rahim, memiliki arti dengan nama Allah yang maha penyayang (bagi semua maghlugnya maha Pengasih bagi orang beriman, saya melakukan segala sesuatu.

2- Saya melakukan segala sesuatu atas nama Allah, dengan memohon pertolongan Allah, bersama Allah, dan dengan cara yang diajarkan Allah swt.

3- Karena semua perbuatan dan ucapan dilakukan dengan nama Allah maka semua perbuatan haruslah yang baik yang diizinkan Allah swt.

4- Bismillah mengajarkan spirit amal yang tinggi untuk meraih kesuksesan dunia akherat.

5- Orang yang melakukan segala perbuatan dengan bismillah tidak merugi bahkan sukses dan beruntung dunia mendapatkan rahmat dan bimbingan sedang di akherat mendapatkan kesempurnaan kasih sayang Allah swt.

Posted by: asma | December 17, 2010

Adzab Kufur Nikmat Allah

‘Dan Allah telah membikin perumpamaan sebuah desa (negeri) yang aman tenang datang kepadanya rizkinya dengan mudah dari segala tempat, lantas dia kafir dengan nikmat Allah, maka Allah rasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan dengan sebab apa yang mereka lakukan .( An-Nahl ayat : 112)

Ayat di atas menceritakan tentang adanya sebuah negeri yang Allah berikan kepadanya segala kenikmatan, aman tentram, tenang rizkinya melimpah, disegani oleh musuh, dihormati oleh teman, tapi mereka tidak menyikapi kenikmatan ini dengan syukur dan ibadah kepada Allah, melainkan membalas kenikmatan dengan kekufuran, lantas Allah menghukum mereka dengan berbagai macam hukuman, mereka ditimpa kelaparan paceklik, ketakutan dari serangan musuh.

Para mufassirin seperti Aisyah ra menafsirkan bahwa yang dimaksudkan ayat ini adalah Makkah dan penduduknya yang semula mereka dalam kondisi aman tentram, rizqi datang kepada mereka dengan mudah, dan ketika mereka kufur kepada Nabi Muhamad saw dan menentangnya, Allah menghukum mereka dengan paceklik bertahun tahun sehingga mereka kelaparan sampai mereka makan bangkai.

Ayat ini sebagai pelajaran bagi yang berpaling dari ayat Allah, dan kufur terhadap nikmatNya, dan mengganti kenikmatan dengan kekufuran, sehingga ditimpa kehancuran dalam berbagai sisi kehidupan, seperti yang Allah katakan : ” apakah kalian tidak perhatikan orang orang yang mengganti nikmat Allah kekafiran dan menimpakan kaum mereka, kebinasaan, yaitu jahannam yang mereka masuki dan seburuk buruk tempat menetap” QS Ibrahim ayat : 28-29.

Sunnatullah akan adanya adzab bagi yang kufur dan tidak mensyukuri nikmat Allah bisa menimpa pribadi dan masyarakat, menimpa pribadi bisa berupa kurangnya rizqi, kesempitan hidup, dipalingkan hatinya dari kebenaran, dijadikan budak hawa nafsu, atau turun padanya berbagai siksaan dunia dan akherat, adapun untuk masyarakat, dapat mengalami seperti apa yang Allah berikan peringatan dalam ayatnya : katakanlah bahwa Dia mampu mengirimkan atas kalian adzab dari atas kalian, dan dari bawah kalian, dan menjadikan bergolong golong, sebagian kalian menimpakan siksaan kepada sebagian lainnya, perhatikan bagaimana Kami mengulang ulang ayat agar mereka paham. siksaan dari atas yang bisa berarti hujan batu, petir atau hujan banjir bandang bias berupa dijadikannya para pemimpin menjadi sumber malapetaka rakyat, siksaan dari bawah yang berupa tanah lonsor, gempa, atau rakyat jadi bencana bagi pemimpin, atau segenap komponen bangsa yang seharusnya salaing mengenal, saling berta’awun malah saling menyiksa, memfitanah dan membunuh.

Demikian negeri kita Indonesia tatkala ditegakkan syari’at Islam dan aqidah Islam pada awal munculnya pemerintahan Islam di tanah air, kebaikan dan ketentraman dirakan oleh semua, kemudian  tatkala meninggalkan Islam, berbagai macam siksaan dan bencana Allah telah ditimpakan terhadap bangsa Indonesia, baik siksaan fisik maupun siksaan non fisik hilangnya keberkahan hidup, orientasi kepada dunia dan syahwat, sehingga harga diri bangsa terpuruk sangat rendah. Kekayaan negeri melimpah tapi rakyat dalam kemiskinan, kekayaan jatuh ke tangan asing. Rakyat dan pemerintah saling menghujat, komponen bahasa saling bermusuhan. muncul berbagai macam penyakit mematikan yang tidak dikenal pada masa lalu.

Siksaan sering dimulai dengan istidraj (nglulu) dengan diberikan berbagai macam kesuksesan dunia, ekonomi, social, politik, jabatan, sehingga dia menyangka menguasi semua, kemudian Allah siksa dengan berbagai penyakit, atau bencana yang menghilangkan segala kenikmatan hidup secara tiba tiba, sehingga ia kebingungan, dan putus asa dari rahmat Allah swt, Allah berkata : tatkala mereka lupa apa apa yang mereka diberi peringatan dengannya, Kami bukakan baginya pintu segala sesuatu, sehingga mereka bangga dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka tiba tiba sehingga mereka bingung. QS Al-An’am ayat : 44

Berapa banyak yang tiba tiba disiksa oleh Allah ketika di puncak kesuksesannya, berapa banyak orang kehilangan kebahagiaan dan ketenangaannya padahal sebab sebab materi ada di tangannya. Dan siksaan yang lebih berat manakala orang dijadikan melihat baik perbuatan buruknya, dikunci mata, hati, dan telinganya dari melihat kebenaran, mencintai kekufuran, kefasikan, dan membenci kebenaran, maka siapa lagi orang yang bisa menunjukinya kepada kebenaran, Allah berkata: apakah engkau tidak perhatikan orang yang hawa nafsunya sebagai ilaahnya, dan Allah sesatkan atas ilmu, Allah menutup pendengarannya, hatinya, dan Allah jadikan di matanya tutup, maka siapakah lagi yang dapat menunjukinya setelah Allah?  QS Al Jatsiyah ayat : 24

Musibah dan bencana yang ditimpakan kepada orang yang tidak bersyukur ada dua macam, siksaan fisik, dan non fisik siksaan non fisik berupa tercerabutnya iman dalam hati, sehingga tidak merasakan kelezatan iman, dan ibadah, dan dirasukinya cinta dunia serta dijadikan budak hawa nafsu, Nabi bersabda : celaka hamba diinar, celakalah hamba perak, celaka dan tersungkur, kalau kena duri tidak dapat melepasnya(kalau mendapatkan musibah tidak bias melepaskan diri darinya). HR Bukhari

Berbicara tentang kufur nikmat, perlu dingatkan pentingnya memahami arti nikmat dan bagaimana mensyukurinya, nikmat adalah segala yang menjadikan tegaknya kehidupan lahir dan batin penuh dengan kebaikan, kenyaman, dan kebahagiaan, yang utama dari kenikmatan adalah mengenal Allah, memahami syari’ah yang diturunkan, iman kepada Allah, nikmat Al-Qur’an, kenikmatan hati, mata, telinga, sebagai sarana mendapatkan ilmu dan hidayah, kenikmatan disempurnakan Islam, dan jadikan mudah parktis, dapat dilaksanakan kapan dan dimana saja, maka mensyukurinya dengan iman kepada Allah, selalu ibadah kepadaNya tunduk dan patuh dengan segala perintah dan laranganNya. Menjadikan Islam sebagai aturan hidup pribadi, masyarakat maupun Negara, maka dari sini diketahui kekufuran bangsa Indonesia terhadap nikmat Allah, dengan menolak beribadah kepada Allah, menolak syari’at Islam, tidak menjadikan Islam dasar membangun akhlaq, menjadikan isme isme buatan manusia, kapitalisme, sosialisme, sebagai filosofi mengelola Negara, menjadikan budaya barat sebagai budaya pergaulan, bahkan lebih dahsyat lagi pemerintah lebih cenderung kapada kaum liberlisme dan sekularisme yang menghina Islam, mengobok obok kesuciannya. Apa jadinya bangsa Indonesia bergelimang dalam kenikmatan kalau tidak beriman dan bersyukur kepada Allah, apa gunanya kemajuan tekhnologi kalau tidak memahami tujuan hidup, apa gunanya kepandaian dan kekuasaan kalau hanya untuk dapat korupsi besar besaran, memiliki senjata bukan untuk melindungi rakyat dan membela kebenaran tapi untuk menyiksa dan membunuh saudaranya dan rakyat sendiri, dimana keberkahan dan kebehagiaan negeri ini yang telah meninggalkan hidayah Allah, padahal Allah telah berkata kepada Adam sebelum melepaskan ke bumi ” dan nati akan datang kepadamu petunjuk dariku. Dan siap yang mengikuti petunjukku tidak akan takut dan tidak sedih, dan siapa yang kafir dan mendustakan ayat ayat Kami mereka penghuni neraka, kekal di dalamnya.

Posted by: asma | December 15, 2010

Pemuda Islam

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (13) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (14)

Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita Ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. 14.  Dan kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri[1]) lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya kami kalau demikian Telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. QS Al-kahfi ayat : 13-14

Islam ditegakkan oleh para pemuda, para sahabat kebanyakan juga para pemuda, Nabi Ibrahim waktu menghancurkan berhala dan dihukum bakar dalam usia belia, Tidak sedikit di antara para imam fuqaha mencapai derajat imamah pada usia muda, Imam Syafi dapat rekomendasi untuk jadi mufti dalam usia 17 tahun, imam Haramaini Al-Juwaini guru Imam Ghazali dalam usia 20 tahun sudah menjadi imam di Makkah dan Madinah, Imam Bukhari mengarang kitab Tarikhul Al-kabir yang terdiri dari delapan jilid dan menjadi rujukan utama dalam ilmu hadits juga pada usia 18 tahun.

Jadi Pemuda tidak mesti identik dengan dunia nakal dan kekanak kanakan, atau dunia foya foya, melainkan dapat didesain menjadi pemuda ahli sorga, pemuda yang akan mendapatkan naungan Allah yang tidak ada naungan kecuali naunganNya seperti dalam hadits riwayat imam Bukhari dari Ashabus Sunan dan diriwayatkan oleh Abu hurairah, Umar Bin khattab dan beberapa sahabat, bahwa Rasulullah pernah bersabda : tujuh orang akan dinaungi Allah yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, Imam yang adil, kedua: pemuda yang tumbuh berkembang dalam ibadah kepada Allah.

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, dan berjuang dalam menegakkan kalimat Allah, mendapat naungan Allah, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. seperti ashabul kahfi yang lantang menentang kebatilan kesyirikan, sekaligus menda’wahi raja yang dhalim kepada tauhid, yang karena ketegaran mereka Allah swt menjadikan mereka mu’jizat Allah, mereka tidur selama 309 tahun Qamariyah atau 300 tahun Syamsiyah.

Pemuda merupakan asset energi perjuangan di setiap zaman, jika kebanyakan pemuda pada zaman ini banyak terperosok dalam kehidupan hedonisme, glamor, pergaulan bebas, free sex, sejatinya bukan karena tabiatanya yang rusak, akan tetapi lebih dikarenakan kegagalan tarbiyah orang tua dan masyarakat kepada mereka, terutama gagal dalam membangun idealis yang tinggi yang menjadi magnet untuk menarik seluruh perhatian hidupnya dalam merealisasikannya. Maka membangun pemuda yang kuat aqidahnya, tinggi cita citanya, tangguh akhlaqnya, kuat ilmunya, menjadi teladan dan motor penggerak kaumnya harus menjadi prioritas utama pembangunan nasional, Rasulullah saw bersabda dalam hadits :

عَنْ عُقْبَةَ بن عَامِرٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:”إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ”.

Dari Uqbah bin ‘Amir sesungguhnya Nabi saw bersabda : sesungguhnya Allah kagum terhadap pemuda yang tidak mengalami kekanak kanakan. (HR Thabarani, dan Imam Ahmad.

Alang indahnya para pemuda telah dipersiapkan menjadi ahli sorga sejak kecilnya, ibu bapaknya ketika berkumpul berdoa dengan basmalah dan ta’awwudz sehingga anaknya yang lahir tidak diganggu oleh jin, masa remaja dan mudanya tumbuh dalam ibadah kepada Allah swt, mengabiskan usia mudanya untuk da’wah dan jihad, alangkah banyaknya generasi awal yang masa mudanya diisi dengan ketaatan dan thalabul ‘ilmi, karena meyakini bahwa kemuliaan hanya dalam ketaatan kepada Allah,   kemuliaan hanya dimiliki oleh Allah dan Dia berikan kepada para wali-Nya yang beriman ” ketahuilah sesungguh izzah, prestisius, kemuliaan itu hanya milik Allah semua” QS An-nisa  ayat : 139, “dan izzah itu untuk Allah, RasulNya, dan orang orang beriman”. QS Munafikun ayat : 8.

Ibnu Abbas menuntut ilmu sejak kecil, beliau  sangat tekun dalam mencari ilmu, diceritakan bahwa beliau jika ingin bertanya seorang sahabat tentang hadits beliau mengikutinya setelah keluar dari masjid, berjalan dibelakangnya kalau sahabat tersebut menoleh dan bisa bertanya kepadanya beliau bertanya, jika tidak menoleh sehingga  masuk ke rumahnya, ibnu Abbas menunggunya dengan duduk di emperan rumahnya, sampai sahabat tersebut keluar dari rumahnya untuk shalat, dan ketika  itu beliau bertanya.

Imam Ibnu Taimiyyah sejak kecil rajin belajar, suatu saat orang tuanya menawari beliau untuk tamasya, dan beliau mohon izin untuk tidak ikut, dan ketika keluarga beliau pulang dan mereka menceritakan kenikmatan tamasya, beliau mengatakan, dan apa yang kalian bawa pulang, adapun saya telah khatam memahami buku ini ” raudhatun nadzir wa junnatun munadzir karangan Ibnu Qudamah” selama kalian pergi.

Dalam jihad dan da’wah mereka terdepan, Karena mengikuti Rasulullah, Mus’ab bin Umair diusir orang tuanya dalam kondisi faqir dan serba kekurangan, tapi hal itu tidak menghalangi beliau untuk berhasil mengemban amanah sebagai duta da’i di Madinah sampai kebanyakan penduduknya masuk Islam.  Dalam masalah jihad, contoh keteladanan mereka tidak terhingga, ada dua sahabat muda mendaftar ikut jihad, karena masih sangat muda ditolak oleh baginda Nabi, dan dua sahabat tersebut  tidak menyerah begitu saja, ketika ditolak,  satu diantara keduanya mengatakan bahwa ia  memiliki kemampuan memanah, dan akhirnya ia diizinkan Rasulullah untuk berjihad, yang satu tidak mau kalah dan mengatakan ya Rasulullah saya punya kelebihan atas temanku yang engkau izinkan perang, saya mampu untuk merubuhkan dengan gulat, dan akhirnya keduanya diizinkan perang.

Seorang sahabat dan anaknya yang muda rebutan untuk ikut jihad, kata bapaknya: engkau di rumah saja, saya yang mewakilimu berjihad, anaknya menjawab saya yang dapat giliran, dan biar saya yang jihad dan bapak di rumah, dan ketika keduanya ngotot keluar jihad, anaknya berkata : wahai ayah kalau urusan dunia, saya mengalah, adapun untuk urusan sorga(jihad), saya tidak mau mengalah, maka terpaksa keputusan diambil dengan diundi, akhirnya anaknyalah yang dapat undian tiket masuk sorga jihad fi sabiilillah. Di palestina para masyayikh jihad mengatakan bahwa mereka kewalahan untuk melayani ribuan para pelajar yang mendaftarkan diri untuk menjadi mortir jihad melawan yahudi. Ya jadi yang penting bagaimana para orang tua berhasil menanamkan semangat iman dan idealis perjuangan di jiwa para pemuda, maka jadi mereka pemuda ahli sorga yang rindu terhadap kematian di jalan Allah.


[1][875]  Maksudnya: berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri

Posted by: asma | December 13, 2010

Tafsir Surat Al-Ikhlash

1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2.  Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

QS Al-Ihklash diturunkan sebagai jawaban pertanyaan orang kafir Quraisy tentang Rabb, yang disembah kaum muslimin. Diriwayatkan oleh Abul Aliyah dari Ubay bin Kaab bahwa orang musyrikin berkata kepada Rasulullah saw : terangkan kepada kita Rabbmu, maka Allah menurunkan ayat ini. Dhahak, Qatadah dan Muqatil berkata : beberapa orang  pendeta Yahudi berkata : wahai Muhammad terangkan kepada kami Rabbmu barangkali kita beriman kepadamu, karena Allah telah menurunkan sifatnya dalam taurat, beritakan kepada kami : dari apa Dia? Apakah Dia makan dan minum, siapa yang mewarisinya, lantas Allah menurunkan ayat ini.

QS Al-Ikhlash memiliki keutamaan sangat tinggi, dalam Shahih Bukhari dikatakan ada seorang komendan perang  mengimami shalat dalam setiap rakaat selalu membaca al-ikhlash selain surat yang lainnya, maka para sahabatpun menyampaikan hal itu kepada Rasulullah, dan beliau memerintahkan untuk menanyakan motifasinya, ketika ditanya ia menjawab, surat al ikhlash menerangkan sifat Ar-Rahman, dan aku mencintainya, maka aku selalu membacanya, mendengar itu Rasulullah bersabda, cintanya kepadanya memasukkan ia ke sorga.

Surat Al-Ikhlas bernilai sepertiga al-Qur’an karena di dalamnya ada perinsip tauhid, karetna al-Qur’an di dalamnnya ada tauhid, ibadah syari’ah.

Allah berfirman :  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

Ayat ini ketegasan dari Allah yang menerangkan DzatNya: wahai Muhammad, katakan bahwa Dia Allah itu Esa, Ahad artinya tidak ada keduanya, dan tidak ada duanya. Ayat ini menolak seluruh ilah, selain Allah, dan menegaskan bahwa Allah satu satu ilah yang berhak disembah, Allah berfirman : ” Maka Itulah Allah Rabb kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? Yunus ayat : 32. dalam ayat lain Allah berfirman : “Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, Itulah yang batil, dan Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar” QS Al-Haj : 62.

Dari Realitas bahwa Allah itu Esa. Dan Dialah satu satunya Ilaah, maka diin yang datang dariNya yang benar yaitu Al-Islam tergambarkan dalam ketundukan kepada Allah melalui apa yang disampaikan oleh para Rasul. Allah tidak menerima Diin selain Islam, agama selain Islam tertolak karena bukan diin yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Allah berfirman : Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami Hanya(muslim)  tunduk patuh kepada-Nya”.

Setelah datangnya Rasulullah Muhammad saw, segala ajaran tidak akan diterima kecuali apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, dan seluruh pengikut para Nabi sebelumnya, baik Nabi Isa dan Musa wajib mengikutinya jika tidak maka nerakalah tempatnya, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda : Dan demi Dat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya tidak-lah sorangpun dari Umat ini baik yahudi maupun Nasrani kemudian dia tidak mengimani apa yang aku bawa kecuali dia termasuk penduduk api neraka.

Ayat kedua :  Allah adalah Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Allah adalah pencipta, pemilik, pengatur, pemelihara seluruh alam semesta, Dia yang mencukupi kebutuhan seluh makhluqNya, maka sudah wajar jika semua makhluq mengenal Allah, pasti menjadikan Allah sebagai Rabb dan Ilahnya maka Dialah satu satunya Dzat yang pantas seluruh hati manusia tergantung kepadaNya, tidaklah seorang menjadikan Allah sebagai Rabbnya kecuali jika hatinya hanya tergantung kepadaNya dan tidak tertuju kepada selainnya. Ayat ini menolak segala bentuk ketergantungan selain Allah dan mewajibkan tawakkal dan penyerahan total kepada Allah, bagaimana seorang tergantung kepada selainNya pada mereka maghluq yang lemah seperti Dia, bagaimana seorang tidak menggantung hatinya kepada Allah padahal Allah mampu mencukupi seluruh kebutuhannya. Allah berfirman : ” Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya” Rasulullah mengajarkan agar semua manusia selalu meminta kepada Allah dalam segala hal termasuk meminta pertolongan Allah ketika tali sandalnya putus.

Ayat ini sebagai penegasan ketauhidan hati kepada Allah dalam tujuan dan minta pertolongan. Asshamad adalah Dzat yang seluruh hati manusia tertuju kepadaNya. Jadi tidaklah beriman kepada Allah jika hatinya tidak tertuju kepada Allah dalam mencapai segala tujuannya. Dan tidaklah menjadikan Allah sebagai ilahnya kalau masih meminta pertolongan kepada selain Allah, baik itu kepada jin, dukun atau manusia yang lainnya

Ayat ketiga : Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

Ayat ini mengaskan ketauhidan Allah, dan kemandirian Allah, Allah tidak dilahirkan dan tidak memiliki anak, karena Allah tidak membutuhkan sesuatupun, dan ini secara tegas sebagai bukti kebatilan agama kristen, yahudi yang meyakini bahwa Allah punya anak.

Yang berhak menerangkan siapa dan bagiamana Allah adalah Dia sendiri, dan Dia telah menerangkan diriNya sebagai Dzat yang sempurna, tidak membutuhkan anak, dan menjawab orang yang menisbahkan anak kepadaNya, dengan firmanNya: kalau Allah menghendaki mengambil anak, maka Dialah yang memilihnya, bukan manusia, dan Allah telah mengatakan : bagaimana Allah punya anak  sedang Dia tidak punya istri, Bagaimana punya anak,-yang berarti ada kebutuhan-, sedangkan langit dan bumi dan semuanya milik Allah.

Ayat keempat : Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

Tidak ada satupun setara Dia, maka keyakinan terhadap adanya manusia yang memiliki kemampuan apa yang dimiliki oleh Allah merupakan kesyirikan besar yang tak terampuni kecuali dengan taubat sebelum meninggal dunia, seperti keyakinan ada di antara makhluq yang mengatur alam semesta, atau keyakinan ada yang bisa menyembuhkan selain Allah.

Dengan keyakinan bahwa tidak ada satupun yang setara dengan Allah, lahir suatu keyakinan bahwa Allah-lah satu satunya illah,. Ketundukan, kecintaan, harapan dan  takut hanya untuknya semata.

Aqidah tauhid mengharamkan menyamakan Allah dengan makhluq seperti yang dikatakan yahudi bahwa Allah capek, Allah menyesal, Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan. Dan haram pula menyamakan makhluq dengan Allah, seperti ada yang bertkeyakinan bahwa ada yang mengetahui yang ghoib, atau meyakini ada yang memiliki kekuatan supra natural yang mampu mengatur alam semesta, seperti yang dikatakan dalam cerita di wayang.

Ayat ini juga menegaskan bahwa tidak boleh seorang membikin gambar Allah, atau memhami sifat sifat Allah dan namanya dengan perspektif manusia. Keyakinan Tauhid terhadap Allah Dia memiliki nama dan sifat yang sempurna dan tidak sama dengan makhluqNya, sehingga haram berimajinasi tentang Allah apa lagi menggamabrkan

Older Posts »

Categories